Pernah ngga sih seseorang dicap sombong atau belagu cuma karena tidak menyapa teman yang berpapasan di jalan? Jujur, pengalaman ini sering sekali saya alami sampai rasanya ingin menunjukkan apa yang sebenarnya saya lihat saat itu. Masalahnya bukan karena sengaja ingin cuek, tapi saat sedang berkendara atau jalan kaki, fokus saya benar-benar tersita sepenuhnya ke arah depan demi keselamatan. Konsentrasi ke jalan raya jauh lebih penting daripada harus terus-menerus memantau siapa saja yang lewat. Kadang saking fokusnya, orang yang melambaikan tangan pun hanya lewat begitu saja di ingatan karena otak sedang dalam mode siaga.

Kondisi ini makin diperparah dengan kendala rabun jauh yang lumayan mengganggu, terutama untuk objek di jarak 20-30 meter ke atas. Di jarak sejauh itu, pandangan mulai kabur dan saya hanya bisa melihat bentuk tubuh atau warna baju tanpa tahu jelas siapa orangnya. Saya bahkan pernah punya pengalaman memalukan, dengan penuh percaya diri saya menyapa dan memanggil orang yang dikira teman dekat, tapi saat sudah dekat ternyata itu adalah orang asing yang mukanya bingung melihat saya. Rasanya ingin menghilang saat itu juga karena salah orang, dan sejak kejadian itu muncul rasa trauma untuk menyapa duluan kalau tidak benar-benar yakin.

Bagi siapa pun yang punya kondisi mata serupa, pasti paham betapa melelahkannya harus terus-menerus “menajamkan” mata demi memastikan siapa yang lewat di depan sana. Rasanya serba salah, mau menyapa takut salah orang, tapi kalau diam saja malah dibilang angkuh. Kita yang punya pandangan terbatas ini sebenarnya hanya ingin tenang di jalan tanpa harus merasa bersalah setiap kali gagal mengenali wajah dari kejauhan. Kita tidak sedang memusuhi siapa pun, kita hanya sedang berjuang dengan resolusi pandangan yang tidak setajam orang lain.

Intinya, tulisan ini dibuat hanya untuk meluruskan unek-unek yang selama ini tersimpan. Label “sombong” itu sering kali muncul murni karena salah paham akibat keterbatasan mata yang tidak bisa melihat jauh. Bukannya tidak mau ramah atau tidak peduli dengan lingkungan sekitar, tapi memang ada momen di mana keberadaan orang lain tidak tertangkap oleh mata yang sudah buram dari kejauhan. Kondisi mata dan fokus di jalan raya memang sering kali membuat respons terhadap kehadiran orang di sekitar menjadi sangat terbatas.