Kadang lucu rasanya melihat bagaimana hidup bekerja.

Ketika melihat nama seseorang di kontak HP atau foto profilnya yang lewat sekilas di media sosial, tidak ada rasa sakit atau sesak yang berlebihan. Hanya ada satu perasaan aneh. Kesadaran.

Sadar bahwa orang ini, yang dulu rasanya sedekat nadi, sekarang terasa begitu jauh. Bukan karena kami bertengkar hebat, bukan karena ada drama, tapi murni karena waktu memisahkan jalan kami.

Dulu, kedekatan kami terbentuk secara alami. Kami ada di tempat yang sama, mungkin mengerjakan hal yang sama, atau mengejar tujuan yang serupa. Kami berbagi ruang fisik. Duduk bersebelahan, berdiskusi soal tugas atau hal yang menarik, tertawa karena hal-hal remeh, atau sekadar diam bersama karena sudah terlalu lelah beraktivitas.

Saat itu, rasanya mustahil kami bisa menjadi asing. Kami terlalu tahu kebiasaan satu sama lain.

Tapi kemudian fase itu berakhir.

Hidup memaksa kami mengambil jalan yang berbeda. Entah itu lulus, punya kesibukan masing-masing, atau sekadar prioritas hidup yang bergeser.

Awalnya saya pikir komunikasi digital cukup untuk menjaga semuanya tetap sama. “Tinggal chat doang kan?” pikir saya waktu itu. Tapi ternyata saya salah.

Tanpa pertemuan fisik, tanpa tujuan bersama yang sedang dikejar, obrolan perlahan kehilangan bensinnya. Topik yang dulu mengalir deras, tiba-tiba jadi kering. Apa yang relevan bagi saya sekarang, mungkin tidak lagi menarik baginya. Dan apa yang sedang dia hadapi di sana, saya tidak benar-benar paham konteksnya.

Akhirnya komunikasi melambat. Dari yang intens, jadi jarang, sampai akhirnya berhenti total.

Tidak ada yang salah dengan itu. Kami hanya sibuk bertahan hidup di jalur masing-masing.

Dan di sinilah bagian menariknya. Waktu bekerja dalam diam. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Tanpa sadar, rasa “dekat” itu terkikis habis.

Sekarang, saat melihatnya lagi, rasanya seperti melihat orang asing yang familiar. Saya tahu siapa dia dulu, tapi saya tidak tahu siapa dia sekarang.

Apakah dia masih suka hal yang sama? Apakah cara pandangnya sudah berubah? Saya tidak tahu. Dan untuk mencari tahu pun rasanya canggung. Ada tembok tak terlihat bernama “waktu” yang sudah terlalu tinggi untuk dipanjat cuma demi basa-basi “Apa kabar?”.

Jadi ya, begitulah.

Saya menyadari bahwa ini adalah bagian normal dari tumbuh dewasa. Orang datang dan pergi sesuai dengan babak kehidupannya. Dulu kami satu bab, sekarang sudah beda buku.

Tidak perlu disesali, cukup dimengerti bahwa memang begitulah cara waktu bekerja, mengubah “teman seperjuangan” menjadi “seseorang yang pernah saya kenal”.