Banyak yang bilang kalau punya banyak ide itu anugerah. Katanya, hidup orang kreatif itu menyenangkan karena tidak pernah kehabisan akal dan selalu punya cara baru untuk melihat dunia. Di atas kertas, kedengarannya memang seperti sebuah kelebihan yang luar biasa.
Tapi jujur saja, realitanya tidak selalu seindah itu. Bagi saya, punya kepala yang “terlalu berisik” dengan berbagai pemikiran liar sering kali terasa lebih seperti kutukan daripada anugerah.
Saya tidak memungkiri sisi positifnya. Memang ada kepuasan tersendiri ketika kita tidak pernah kehabisan bahan untuk dikerjakan. Selalu ada dorongan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Namun, dorongan ini kalau tidak dijaga, justru bisa menjadi bumerang.
Masalah terbesarnya ada pada kontrol diri.
Ketika satu niat muncul, misalnya rencana sederhana untuk membuat sesuatu, otak saya sering kali menolak untuk berhenti di situ. Secara otomatis, pikiran saya langsung menyusun skenario bercabang.
“Eh, kalau hal A ini ditambah detail B pasti lebih menarik. Tapi kalau ada B, logikanya harus ada C juga biar seimbang. Dan kalau C sudah ada, kenapa nggak sekalian dibikin sampai D biar beda dari yang lain?”
Di sinilah letak masalahnya. Sesuatu yang seharusnya sederhana dan punya tujuan yang jelas, tiba-tiba berubah menjadi hal rumit yang tidak ada ujungnya. Garis finis yang tadinya sudah di depan mata, malah saya geser sendiri semakin jauh demi mengejar standar “sempurna” yang saya ciptakan sendiri di kepala.
Akibatnya tentu beban mental.
Kepala rasanya penuh. Energi yang seharusnya dipakai untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai, malah habis tersedot untuk memikirkan detail tambahan yang sebenarnya belum tentu perlu. Rasanya seperti menyuruh kaki berlari maraton, padahal langkah pertama saja belum tuntas.
Kondisi ini makin rumit ketika berbenturan dengan orang lain. Tidak semua orang punya cara pandang atau standar yang sama dengan kita. Saat saya mencoba menjelaskan “sesuatu” yang sudah berkembang dari A ke D tadi, wajar jika orang lain merasa itu terlalu berlebihan.
Bagi mereka, “Yang penting jadi” sudah cukup. Bagi saya, “Cukup” itu rasanya kurang.
Perbedaan ini akhirnya menciptakan konflik. Ada waktu yang terbuang untuk berdebat, dan ada tenaga yang habis hanya untuk meyakinkan orang lain. Kadang muncul perasaan seolah ide kita tidak dihargai, padahal mungkin kitalah yang memang terlalu mempersulit keadaan.
Pada akhirnya, saya sadar bahwa menjadi inovatif itu ada harganya. Ada waktu, tenaga, dan pikiran yang harus dibayar.
Tulisan ini bukan untuk mengeluh, tapi sebagai pengingat bagi diri saya sendiri. Bahwa tantangan terbesar bukanlah mencari ide baru, melainkan belajar untuk berkata “cukup”.
Belajar menahan diri untuk menyelesaikan A sampai B dulu tanpa harus memaksa lari ke D. Karena kadang, sesuatu yang selesai meskipun sederhana, jauh lebih berharga daripada rencana sempurna yang hanya menumpuk di kepala.
Saya sendiri sudah mulai mencobanya, dan akan menerapkannya di skripsi saya.