Mari kita putar waktu sejenak ke era di mana motor “Ayam Jago” atau Ayago menjadi simbol supremasi di jalanan. Dulu, rasanya belum sah disebut bikers sejati kalau belum menunggangi motor berdesain ramping dengan setang jepit ini. Selama bertahun-tahun, Suzuki Satria F150 melenggang sendirian tanpa lawan yang sepadan, menikmati takhta sebagai raja jalanan. Melihat dominasi tersebut, Honda tentu tidak tinggal diam. Tepat pada tahun 2015, mereka membangkitkan kembali nama legendaris dengan merilis Honda Sonic 150R. Mengusung mesin baru DOHC 150cc yang near square, motor ini memikul misi besar untuk meruntuhkan dominasi sang raja dan merebut kembali kejayaan masa lalu. Di atas kertas, Sonic 150R punya segala modal untuk sukses.

Namun, sejarah punya cara kerjanya sendiri. Sonic 150R ibarat pahlawan yang datang di medan perang yang sudah ditinggalkan. Tepat ketika Honda meluncurkan amunisi terbaiknya ini, selera pasar otomotif Indonesia justru sedang mengalami pergeseran arah. Orang tidak lagi mencari motor yang sekadar kencang dan racy, melainkan mencari kenyamanan, kepraktisan, dan ruang penyimpanan. Tren bergeser drastis ke arah Skutik Maxi. Angka tidak pernah bohong. Berdasarkan data distribusi domestik tahun 2023, dominasi motor matic benar-benar tidak terbendung. Penjualan skutik menguasai pasar hingga nyaris 90% (tepatnya 89,73%). Lalu di mana posisi motor Underbone yang menaungi kelas bebek dan Ayago? Mereka terpuruk dan hanya menyisakan pangsa pasar sebesar 5,08%. Data ini adalah tamparan keras. Sonic 150R lahir di saat masyarakat Indonesia sudah mulai lelah memikirkan oper gigi dan lebih memilih kenyamanan tinggal gas ala motor matic.

Dampak dari menyusutnya pasar ini sangat terasa pada perlakuan pabrikan terhadap Sonic 150R. Sejak debutnya di 2015 hingga sekarang, coba perhatikan adakah ubahan revolusioner pada motor ini? Jawabannya nol. Tidak ada major facelift. Tidak ada penambahan fitur kekinian seperti keyless ignition, panel instrumen baru, atau ubahan desain bodi yang radikal. Pembaruan yang diberikan setiap tahunnya mentok hanya pada permainan warna dan striping baru. Sonic 150R terkesan dibiarkan hidup segan mati tak mau, dianaktirikan oleh pabrikannya sendiri yang jelas lebih sibuk memanjakan lini skutik mereka yang menjadi ladang cuan yang sesungguhnya.

Di tengah stop-and-go kemacetan jalanan modern, menahan tuas kopling manual secara terus-menerus adalah siksaan tersendiri buat tangan kiri. Belum lagi absennya bagasi untuk jas hujan dan cipratan air dari ban belakang yang bikin repot. Kalau murni mencari fungsionalitas dan kenyamanan harian, skutik jelas menang mutlak. Lalu siapa yang masih mau membeli Sonic 150R sekarang? Jawabannya mengerucut pada satu kelompok yaitu para enthusiast. Motor ini kini hanya relevan bagi mereka yang murni mencari sensasi berkendara mekanis. Mereka yang bosan dengan rutinitas gas-rem di motor matic dan merindukan sensasi agresif memainkan putaran mesin, memacu adrenalin lewat hentakan engine brake, dan merasakan kebebasan mengontrol transmisi manual secara penuh. Sonic 150R bukan lagi soal kendaraan harian, melainkan mainan pelepas penat.

Dengan melihat realita pasar yang ada, rasanya kita harus mulai realistis. Saya memprediksi bahwa usia Honda Sonic 150R mungkin tersisa 1 hingga 5 tahun ke depan, atau setidaknya bertahan sampai Suzuki akhirnya menyerah dan menghentikan produksi Satria F150. Karena pada dasarnya, keberadaan motor ini dipertahankan sepertinya cuma untuk melengkapi lini persaingan Honda di semua segmen pasar saja. Pangsa pasar 5% yang terus tergerus dari tahun ke tahun tentu tidak ideal untuk skala industri raksasa. Cepat atau lambat, efisiensi akan memaksa pabrikan untuk menutup lini produksi ini. Ditambah lagi, fokus industri kini mulai berlomba-lomba beralih ke era elektrifikasi. Pada akhirnya, Honda Sonic 150R akan dikenang sebagai korban kejamnya seleksi alam dan perubahan zaman. Era Ayago mungkin memang sudah harus bertekuk lutut pada kepraktisan motor matic.

Komentar:
Catatan: Script komentar di atas memerlukan ID Repository Anda. Kunjungi giscus.app untuk mendapatkan data-repo-id dan data-category-id khusus untuk repository zidan-idz/RandomWeeks, lalu gantikan teks placeholder di atas.