Nama Rascal Does Not Dream of Bunny Girl Senpai itu sebenarnya adalah penipuan terbesar. Waktu saya pertama kali tahu anime ini di tahun 2020 saya pikir ini cuma tontonan romcom pasaran yang isinya pamer lekuk tubuh wanita dan cerita dangkal. Reaksi saya waktu itu datar sekali dan bahkan saya sempat merasa bosan karena alurnya terasa lambat. Saya menontonnya tanpa ekspektasi dan tidak menangkap apa bagusnya interaksi mereka.
Lucunya saya butuh waktu dua tahun untuk benar-benar sadar. Baru sekitar tahun 2022 mata saya terbuka dan saya menyadari kalau anime yang dulu saya anggap biasa saja ini ternyata adalah sebuah mahakarya.
Kuncinya ada pada karakter Sakuta Azusagawa.
Dia bukan karakter utama laki-laki standar yang sok ramah. Sakuta itu jujur sampai ke level yang hampir tidak sopan. Dia benci basa-basi dan kalau dia memikirkan sesuatu dia akan mengatakannya begitu saja. Bukan karena dia jahat tapi karena dia benci kepalsuan. Dia lebih memilih menyakiti orang dengan kejujuran daripada menenangkan mereka dengan kebohongan. Empati Sakuta itu aktif dan bukan teatrikal. Dia tidak banyak pidato soal peduli tapi dia langsung bertindak pasang badan tanpa minta dianggap pahlawan.
Sikap sinis yang sering dia tunjukkan itu sebenarnya cuma pelindung karena dia sudah melihat terlalu banyak hal absurd di dunia ini. Dia juga tipe orang yang tidak mengidealkan orang lain. Dia melihat Mai dan teman-temannya sebagai manusia yang punya cacat dan itu tidak masalah baginya. Sakuta adalah orang pesimis yang tetap bertanggung jawab. Kekurangannya jelas seperti sering mengorbankan diri sendiri dan memendam emosi tapi itulah yang membuatnya terasa hidup.
Di sisi lain ada Mai Sakurajima yang menjadi penyeimbang sempurna.
Mai adalah definisi mandiri yang terbentuk oleh kerasnya dunia hiburan. Dia jarang minta tolong bukan karena tidak butuh tapi karena gengsi dan tidak mau terlihat lemah. Beda dengan Sakuta yang ceplas-ceplos Mai itu jujur tapi terukur. Kata-katanya dipilih dengan presisi karena dia tahu betul efeknya. Emosinya dalam tapi terkunci rapat. Dia tidak butuh validasi dari orang lain dan kesetiaannya luar biasa stabil. Dia bukan tipe wanita yang drama atau main tarik-ulur.
Dinamika mereka berdua inilah yang membuat saya jatuh hati. Sakuta yang berisik dan nekat diimbangi oleh Mai yang tenang dan mengakar. Mereka berdua terasa sangat cocok dan saling melengkapi.
Sayangnya penyesalan selalu datang terlambat. Karena saya baru benar-benar menghargai anime ini di tahun 2022 rasanya waktu kebersamaan saya dengan mereka jadi sangat singkat. Lalu tiba-tiba saja muncul kabar kalau kisah perjalanan mereka akan berakhir di pertengahan tahun 2026 nanti. Kabar ini benar-benar mengagetkan dan membuat dada sesak.
Saya merasa perpisahan ini terlalu cepat. Saya merasa belum puas melihat perkembangan mereka. Rasanya baru kemarin saya mulai paham betapa bagusnya cerita ini tapi sekarang saya sudah dipaksa untuk bersiap mengucapkan selamat tinggal. Karena saya memulainya dengan keraguan dan baru menyayanginya belakangan rasanya berat sekali harus melepaskan Sakuta dan Mai secepat ini. Saya benar-benar belum siap.
Mungkin ini adalah hukuman karena saya terlambat menyadari betapa berharganya kisah ini. Waktu dua tahun yang saya buang sia-sia karena meremehkannya di awal membuat sisa waktu menuju 2026 terasa semakin singkat dan kejam. Tapi satu hal yang pasti saya tidak akan memalingkan wajah lagi. Meski rasanya berat dan belum siap saya akan menemani langkah Sakuta dan Mai sampai detik terakhir. Saya ingin menjadi saksi bagaimana mereka menutup lembaran masa muda mereka dengan cara terbaik meskipun setelah itu saya harus kembali merasakan kesepian karena ditinggal oleh karakter yang sudah saya anggap seperti bagian dari hidup saya sendiri.