Awalnya saya melihat Chitose Saku dengan pandangan yang biasa saja bahkan cenderung meremehkan. Dia muncul sebagai sosok yang memiliki segalanya. Dia tampan dan populer serta bisa melakukan apa saja dengan mudah. Rasanya dia terlalu menyilaukan dan mustahil untuk didekati. Saya sempat berpikir kalau dia hanyalah karakter utama standar yang diciptakan untuk memuaskan fantasi penonton tentang kehidupan sekolah yang sempurna.

Namun seiring berjalannya waktu saya mulai sadar kalau anggapan itu salah besar. Chitose Saku ternyata jauh lebih keren dan rasional daripada yang terlihat di permukaan.

Dia bukanlah karakter yang sok polos atau berpura-pura baik agar disukai semua orang. Dia justru tampil apa adanya dengan segala kejujuran yang kadang terasa tajam. Dia terlihat tulus tapi sama sekali tidak naif. Salah satu hal yang membuat saya sangat menyukainya adalah kesadarannya bahwa hubungan antarmanusia itu rumit. Dia tahu betul kalau tidak semua orang bisa diselamatkan dan pemikiran ini sangatlah dewasa.

Sikapnya yang sangat terkontrol itu lahir dari pemahaman yang mendalam akan posisi sosialnya. Chitose terlalu sadar akan dampak dari setiap kata yang dia ucapkan dan bagaimana orang lain memandangnya. Akibatnya banyak respon yang dia berikan terasa sangat aman dan terukur. Dia membangun tembok rasionalitas untuk melindungi dirinya sendiri. Saat situasi mulai berat dan emosional dia lebih memilih jalan yang masuk akal daripada harus jujur dengan perasaannya sendiri. Hal ini membuatnya jarang jatuh atau terluka tapi di saat yang sama juga membuat orang sulit untuk benar-benar masuk ke dalam hati kecilnya.

Semua kompleksitas karakter ini sebenarnya sudah terangkum sempurna dalam judul ceritanya yaitu Chitose is in the Ramune Bottle.

Judul ini bukan sekadar kalimat random karena penulis kehabisan ide melainkan sebuah metafora yang sangat cerdas sekaligus agak kejam. Kita semua tahu botol Ramune itu unik karena ada kelereng di dalamnya. Kelereng itu adalah bagian penting dari botol tersebut tapi nasibnya sangat tragis karena dia terjebak. Kelereng itu hanya bisa bergerak berputar-putar di ruang yang sangat sempit dan tidak akan pernah benar-benar bisa keluar kecuali botolnya dipecahkan.

Chitose adalah kelereng tersebut.

Dia hidup dalam sistem sosial sekolah yang terlihat sempurna dan bening seperti botol kaca yang bersih. Dari luar hidupnya terlihat sangat ideal dan enak dipandang sehingga banyak orang iri padanya. Tapi justru karena posisi itulah dia terkurung. Dia tidak bebas bereaksi sembarangan atau menuruti egonya sendiri karena setiap gerakannya dibatasi oleh dinding kaca ekspektasi orang lain.

Bagian yang paling pahit adalah kenyataan bahwa Chitose sadar kalau dia sedang terjebak. Dia paham betul kalau botol itu ada dan mengekangnya. Tapi dia tidak memilih untuk memberontak atau menghancurkan botol itu. Dia tahu kalau dia memaksa keluar maka dia harus memecahkan botolnya yang berarti menghancurkan tatanan sosial yang ada dan menyakiti orang lain. Jadi dengan segala kedewasaan dan rasionalitasnya dia memilih untuk bertahan di dalam sana.

Dia menjaga jarak dan menolak untuk terlalu bergantung pada orang lain. Dia bisa membantu siapa saja tapi enggan menjadi pihak yang membutuhkan bantuan. Ada kebanggaan halus di situ yang membuatnya tetap tegar meskipun sebenarnya dia kesepian di dalam botolnya yang sempit. Sikapnya yang memilih mengatur jarak daripada menghadapi konflik batin yang berantakan mungkin terlihat seperti pelarian bagi sebagian orang tapi bagi saya itu adalah hal yang sangat manusiawi.

Jadi judul ini sebenarnya tidak romantis sama sekali. Judul ini ingin mengatakan bahwa hidup yang terlihat nyaman dan menyilaukan belum tentu memberikan kebebasan. Chitose mengajarkan saya bahwa terkadang menjadi dewasa berarti berani menanggung beban kesempurnaan itu sendirian dalam diam. Dan kalau dipikir-pikir lagi mungkin alasan kenapa karakter ini terasa sangat nyata adalah karena banyak dari kita yang sebenarnya juga masih hidup terkurung di dalam botol kita masing-masing.